Hukum Menyambung: Akhir Surat, Bismillah dan Awal Surat.

•May 5, 2017 • Leave a Comment

1. Qath’ul Jami’: Putus semua
2. Washal Jami’ : Sambung semua
3. Qath’ul awal, wa washal ats tsaani wats tsaalits: Memutus yang awal (akhir surat), menyambungkan yang kedua (bismillah) dan ketiga (awal surat).

Yang tidak boleh dilakukan, Washal awal wats tsaani wa qath’ul ats tsaalits: Menyambung yang awal (akhir surat) dengan yang kedua (bismillah) dan memutus yang ketiga.

Saat memutus semua, hukum seperti biasa. Tapi ketika diwashal maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Untuk akhirannya biasa, kita membacanya biasa saja. Pun di awal surat tidak ada hamzah washal seperti contoh no 1.

1

2. Jika di akhir surat ada ba mati, nun mati atau tanwin, atau nun mati, maka pembacaannya sesuai dengan hukumnya. Demikian juga jika di awal surat ada hamzah washal.

2.a. Akhir surat ada ba mati, ketika disambung dengan bismillah maka hukumnya idghom mutamatsilain. Huruf ba di akhir surat dimasukkan ke ba bismillah (lihat ada tanda tasydid di bismillah.

2.a

2.b. Akhir surat ada tanwin (atau nun mati), ketika disambung dengan bismillah maka hukumnya iqlab. Huruf n menjadi m, dengan dengung. Lihat di akhir surat ada gambar mim kecil.

2.b

2.c. Akhir surat ada mim mati, ketika disambung dengan bismillah maka hukumnya ikhfa syafawi. Dibaca dengung, posisi bibir tidak rapat. Seperti ada selembar kertas. Tapi ada beberapa guru yang membolehkan bibir dirapatkan.

2.c

2.d. Awal surat ada hamzah washal, ketika disambung dengan akhir bismillah maka kita tidak membacanya bismillaahirrohmaanir rohiimi iqro bismi robbika…, tetapi bismillaahirrohmaanir rohiimiqro bismi robbika….

2.d

Selain itu, perlu diperhatikan jika diwashal, maka hukum mad ‘arid li sukun dan mad layn tidak berlaku dan harakat akhir surat dan bismillah tetap dibaca. Jika waqof kita bisa membaca akhir bacaan yang mengandung mad ‘arid li sukun dan mad layn dengan panjang 2, 4, atau 6 harakat.

Hukum Menyambung: Ta’awudz, Bismillah dan Awal Surat.

•May 5, 2017 • Leave a Comment

Hukum Menyambung: Ta’awudz, Bismillah dan Awal Surat

Ada 4 hukumnya:
1. Qath’ul Jami’: Putus semua
2. Washal Jami’ : Sambung semua
3. Qath’ul awal, wa washal ats tsaani wats tsaalits: Memutus yang awal (ta’awudz), menyambungkan yang kedua (bismillah) dan ketiga (awal surat).
4. Washal awal wats tsaani, wa qath’ul akhir: Menyambung yang awal (ta’awudz) dengan yang kedua dan memutus yang ketiga (awal surat).

Yang perlu diperhatikan terutama untuk hukum ke 2 dan 3. Jika awal surat ada hamzah washal, maka ia disambung dengan akhir bismillah. Seperti contoh 1.b. jika bismillah disambung dengan awal surat, maka tidak boleh dibaca bismillaahirrohmaanir rohiimi alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin…, tetapi bismillaahirrohmaanir rohiimilhamdulillaahi robbil ‘aalamiin….

Selain itu, perlu diperhatikan jika diwashal, maka hukum mad ‘arid li sukun dan mad layn tidak berlaku dan harakat akhir ta’awudz dan basmalah tetap dibaca. Jika waqof kita bisa membaca akhir bacaan yang mengandung mad ‘arid li sukun dan mad layn dengan panjang 2, 4, atau 6 harakat.

 

1.a

1.b

Persiapkan Diri Menyambut Ramadhan!

•May 4, 2017 • Leave a Comment

Source: Persiapkan Diri Menyambut Ramadhan!

Kumpulan Artikel Ramadhan Di Muslim.Or.Id

•May 4, 2017 • Leave a Comment

Source: Kumpulan Artikel Ramadhan Di Muslim.Or.Id

PENCUCIAN UANG

•February 21, 2017 • Leave a Comment

Sudahkah anda (berniat) berinfaq (+zakat, shodaqoh) hari ini?

Sebetulnya infaq, zakat dan shodaqoh MEMANG pencucian uang kok.. Tapi bukan hanya itu. Coba cek, orang yang berinfaq, zakat dan shodaqoh dengan ikhlash baik di waktu lapang dan sempit itu…
1. Membersihkan harta dari hak fakir miskin dan kewajiban sosial.
2. Memberi keberkahan pada harta dan pemiliknya.
3. Menyambung cinta dan sayang sesama manusia.
4. Siapa yang menyayangi makhluq di bumi, akan disayangi penduduk langit.
5. Menjadi orang penyabar dan pemaaf.
6. Menggerakkan ekonomi dan memajukan peradaban.
7. Memadamkan murka Allah.
8. Mendekatkan kita kepada syurga dan ampunanNya yang seluas langit dan bumi. Bahkan lebih.
dst dst…

Yuk kita mencuci harta kita dengan infaq, zakat, shodaqoh..

Salam,
T-man.

nb. jika dianggap bermanfaat, silahkan bantu sharing.

Belum Meneladani

•February 10, 2017 • Leave a Comment

Saya pernah menulis ulang kedermawan Nabi Muhammad, Sholawat dan Salam atasnya, dari sebuah majalah bulanan lama di musholah.

Tadi saya kefikiran lagi kenapa sih kita (baca saya sendiri), susah untuk meniru kedermawan Nabi? Ada dua kasus, yang menyentuh saya.

1. Pada saat menjelang zhuhur, seorang rekan bertanya pak Tiar, “bajunya itu baju seragam drum band ya?” Saya senyum saja. Memang jasko biru ini agak ngejreng warnanya ditambah dengan kancing hitam-emas. Kawan yang lain menimpali, “Hus, itu baju koko.” Rekan yang pertama menjawab, “Bagaimana kalo kita seragamin untuk masjid kita, pak? Masih ada lagi gak?” Saya jawab, “Masih ada di toko.” Shhh.. setelah sholat saya jadi kefikiran. Pengen nanti ta kasih setelah ashar aja. Biar sepi gak keliatan orang. Tapi waktunya belum pas aja.

2. Pas foto-foto acara kantor, teman yang lain lagi nyeletuk ngomentarin kacamata safety saya. “Pak Tiar, kacamata safetynya bagus. Dari mana?” Saya jawab, “dari Inco”. Kacamata ini memang didapat pas field service ke sana. Qodarullah, kacamata safety saya ketinggalan entah di mana. Akhirnya saya diorderkan dari pengawas dari Inco, dan ini jadi kacamata kesayangan saya. Jadi kayak clark kent gitulah 😀. Kawan saya yang tadi nyeletuk bilang, “gimana kalo dituker dengan kacamata saya? Saya mau ganti dengan yang minus nanti kacanya.” Saya diam dan melanjutkan acara foto.

Nah lihat, kan? Katanya cinta Nabi, kok neladanin Sunnah beliau dalam kedermawan kok susah. Beuraaad. Makanya tadi pas makan siang kefikiran, kenapa?

Jawabannya sebenarnya sederhana. Karena kita (baca saya), ‘kurang yakin’ dengan balasan Allah. Nabi dan para shahabat sangat yakin dengan iman yang mantap, Allah akan membalas semua kebaikan. Nah kita (baca saya saja), kalo beramal, kudu diiming-imingi dulu. Kalo ngasih sekian akan dibalas sekian. Dan selalu dihitung dengan ukuran dunia. Kadang itu pun pake gak yakin atau nanya-nanya dalam hati, kemarin sudah beramal kok balasannya belum datang-datang.

Padahal ada balasan yang tidak bisa diukur dengan materi duniawi. Kesehatan, keselamatan, keluarga yang damai, ketenangan, dimudahkan dalam pemahaman ‘ilmu, serta yang lainnya. Uang 10x lipat dibanding kesehatan atau keselamatan, tidak berarti ‘kan? Harta nambah dibanding keluarga yang sakinah, gak sebanding ‘kan?

Semoga kita (kalo ini boleh dibaca: saya dan rekan-rekan sekalian) dimudahkan meneladani sifat Nabi tercinta, baik kedermawanannya atau sifat-perbuatan baik yang lainnya.

Salam,
T-man

Resolusi…

•January 4, 2017 • 2 Comments

Tahun ini gak pake resolusi, sama seperti tahun lalu.