Belum Meneladani

Saya pernah menulis ulang kedermawan Nabi Muhammad, Sholawat dan Salam atasnya, dari sebuah majalah bulanan lama di musholah.

Tadi saya kefikiran lagi kenapa sih kita (baca saya sendiri), susah untuk meniru kedermawan Nabi? Ada dua kasus, yang menyentuh saya.

1. Pada saat menjelang zhuhur, seorang rekan bertanya pak Tiar, “bajunya itu baju seragam drum band ya?” Saya senyum saja. Memang jasko biru ini agak ngejreng warnanya ditambah dengan kancing hitam-emas. Kawan yang lain menimpali, “Hus, itu baju koko.” Rekan yang pertama menjawab, “Bagaimana kalo kita seragamin untuk masjid kita, pak? Masih ada lagi gak?” Saya jawab, “Masih ada di toko.” Shhh.. setelah sholat saya jadi kefikiran. Pengen nanti ta kasih setelah ashar aja. Biar sepi gak keliatan orang. Tapi waktunya belum pas aja.

2. Pas foto-foto acara kantor, teman yang lain lagi nyeletuk ngomentarin kacamata safety saya. “Pak Tiar, kacamata safetynya bagus. Dari mana?” Saya jawab, “dari Inco”. Kacamata ini memang didapat pas field service ke sana. Qodarullah, kacamata safety saya ketinggalan entah di mana. Akhirnya saya diorderkan dari pengawas dari Inco, dan ini jadi kacamata kesayangan saya. Jadi kayak clark kent gitulah 😀. Kawan saya yang tadi nyeletuk bilang, “gimana kalo dituker dengan kacamata saya? Saya mau ganti dengan yang minus nanti kacanya.” Saya diam dan melanjutkan acara foto.

Nah lihat, kan? Katanya cinta Nabi, kok neladanin Sunnah beliau dalam kedermawan kok susah. Beuraaad. Makanya tadi pas makan siang kefikiran, kenapa?

Jawabannya sebenarnya sederhana. Karena kita (baca saya), ‘kurang yakin’ dengan balasan Allah. Nabi dan para shahabat sangat yakin dengan iman yang mantap, Allah akan membalas semua kebaikan. Nah kita (baca saya saja), kalo beramal, kudu diiming-imingi dulu. Kalo ngasih sekian akan dibalas sekian. Dan selalu dihitung dengan ukuran dunia. Kadang itu pun pake gak yakin atau nanya-nanya dalam hati, kemarin sudah beramal kok balasannya belum datang-datang.

Padahal ada balasan yang tidak bisa diukur dengan materi duniawi. Kesehatan, keselamatan, keluarga yang damai, ketenangan, dimudahkan dalam pemahaman ‘ilmu, serta yang lainnya. Uang 10x lipat dibanding kesehatan atau keselamatan, tidak berarti ‘kan? Harta nambah dibanding keluarga yang sakinah, gak sebanding ‘kan?

Semoga kita (kalo ini boleh dibaca: saya dan rekan-rekan sekalian) dimudahkan meneladani sifat Nabi tercinta, baik kedermawanannya atau sifat-perbuatan baik yang lainnya.

Salam,
T-man

Advertisements

~ by tiarrahman on February 10, 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: